Film innocence of Moslem Salah satu bukti ketakutan Amerika terhadap Islam

Akhir-akhir ini sering terdengar isu global tentang beredarnya film yang menghina nabi Muhammad. Film yang di unggah ke dalam Youtube (internet) oleh Nakoula Basseley Nakoula alias Sam Bacile (55) yang membuat suhu amarah umat Islam di seluruh dunia naik, Demonstrasi menentang film ini meluas di hampir seluruh Negara di dunia bahkan duta besar Amerika Serikat untuk Libya tewas dalam aksi protes yang dilancarkan, namun anehnya tersangka penggugah film ini tidak di hukum dengan tegas, bahkan ia ditahan bukan karena kasus film ini namun karena melanggar persyaratan masa percobaan setelah dia dibebaskan dari penjara tahun 2011 dalam kasus penipuan bank

 

Cuplikan film yang di unggah di Youtube berdurasi sekitar 13 menit ini berkisah tentang Nabi Muhammad, namun penggambaran dalam film ini sangat berbeda dengan yang digambarkan di Alquran. Nabi Muhammad digambarkan suka menipu dan melecehkan anak kecil. Dalam Islam menggambar atau melukiskan wajah atau badan nabi Muhammad dilarang, dalam film ini dengan sangat jelas  memperankan Nabi Muhammad dengan karakter yang berlawanan maka wajar bila umat Islam di seluruh dunia mengecakm dan mengutuk keras film ini. Film ini pada pada awalnya berjudul DESERT WARRIORS dan tidak menyebutkan konten SARA, namun dalam cuplikan/trailer dilakukan pemotongan dan dubbing (penggantian suara).

 

Dengan alasan apapun atas nama hak asasi manusia  ataupun kebebasan berekspresi ternyata barat yang di dalangi oleh Amerika Serikat yang selama ini mengkampanyekan Hak asasi adalah pelanggar hak asasi yang terberat, dengan sadar mereka telah menginjak-injak hak Asasi umat Islam dunia yang seharusnya dijaga dan dihargai. Bila mereka mempunyai kebebasan untuk berekspresi hingga melanggar etika tentunya umat Islam juga tidak dibatasi untuk berekspresi menghujat terhadap apa yang telah mereka lakukan. Negara-negara barat begitu menunjukkan kebenciannya terhadap Islam, dengan memojokkan, mengecam dan menghina bahkan melecehkan. Masih teringat oleh kita tentang karikatur nabi Muhammad di Denmark pada September 2005 dan isu pembakaran Alqur’an di Amerika serikat pada September 2010, Ada apa dengan ini semua? Tentunya bukan tanpa alasan,

 

Ada sebuah pendapat bahwa Barat dalam hal ini Amerika Serikat tidak memiliki musuh yang kuat setelah mengakhiri peperangan dengan Uni Soviet pada tahun 1991 maka Amerika merasa harus mencari musuh atau jajahan untuk menunjukkan eksistensinya sebagai Negara yang adikuasa. Salah satu atau mungkin satu-satunya kekuatan besar yang mengancam kekuatan Amerika Serikat adalah Islam yang saat ini pemeluknya menduduki peringkat dunia ke dua setelah Kristen. Berbagai macam cara dilakukan dengan mengadakan propaganda di dunia Islam misalnya saja di Timur Tengah dan Indonesia yang mayoritas penduduknya Islam. Afganistan misalnya sampai saat ini belum pernah ada ujungnya, merka juga mengubek-ubek Suriah, bahkan beberapa tahun lalu Irak diluluk lantakkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya, tidak lepas juga Indonesia yang di jajah dengan cara yang variatif melalui budaya, ekploitasi kekayaan alam, isu teror, budaya dan HAM.

 

Upaya yang dilakukan Amerika dan sekutunya dalam rangka memporak-porandakan Islam ternyata mendapatkan jawaban yang sebaliknya. Hancurnya WTC pada 11 Septembar 2001 sebagai symbol kekuatan Amerika terlepas dari terror Alqeda atau konspirasi Yahudi bukan menjadikan Islam terpuruk namun justru peningkatan populasi pemeluk Islam di Amerika dan umumnya di Eropa mengalami peningkatan yang luar biasa. Pemeluk Islam baru bukan orang yang dibujuk dengan bantuan atau hasutan namun lebih pada rasa penasaran dengan ajaran Islam dan menjadi sadar bahwa Islam adalah agama yang paling benar dan agama yang damai tidak seperti yang selama ini mereka dengar dan mereka tahu.

 

Menurut laporan Lembaga Statistik Khusus umat Islam di Jerman, jumlah orang yang masuk Islam di Jerman bertambah dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006, jumlah mereka yang menyatakan diri masuk Islam sekitar 4.000-an orang, sementara di tahun 2005, hanya sekitar 1.000 orang saja. Menurut Direktur Lembaga, Salim Abdullah,“Sedikitnya ada 18.000-an orang Jerman yang tercatat sudah masuk Islam. Sedang di Maroko, mengutip rilis kementerian wakaf disana, jumlah warga Eropa yang memeluk Islam pada tahun 2009 lalu di berbagai masjid di Maroko mencapai 1958 orang, 1626 di antaranya laki-laki dan 332 perempuan yang berasal dari 52 negara. Mayoritas warga Eropa yang masuk Islam tersebut adalah warga Prancis menempati urutan pertama, yaitu 1.028 orang 863 laki-laki dan 332 perempuan, kemudian Belgia 206 orang, Italia 189 orang, Spanyol 104 muslim. Sementara jumlah penduduk Amerika Latin yang berubah keyakinan mereka di Amerika Serikat semakin lama semakin berkembang. Menurut data dari Islamic Society of North America, diperkirakan saat ini ada sekitar 40 ribu muslim hispanik di Amerika Serikat. Sebagian besar dari mereka menetap di New York, Texas, Los Angeles, Chicago, dan Miami. Di kawasan Amerika Utara sendiri, Islam menjadi agama dengan perkembangan jumlah pemeluknya yang paling cepa sangat relevan dengan Q.S Taubah ayat 33 dan apakah ada hubungan dengan tafsiran Matahari akan terbit dari barat? Wallahu A’lam bisshowab

Wani Piro? (Part 1)

Sejarah mencatat betapa kesuksesan sebuah negara, perusahaan bahkan kesuksesan pribadi tidak diraih dengan tanpa sebuah perjuangan dan pengorbanan. Jepang yang merupakan negara dengan perekonomian yang luar biasa ternyata bangkit setelah negara itu diporak-porandakan dengan bom atom yaitu di kota Hirosima dan Nagasaki. China yang saat ini menjadi negara dengan perekonomian terkuat di dunia mengalahkan Amerika Serikat ternyata memangkas generasi korup dengan menghukum para koruptor dengan hukuman yang tidak tanggung-tanggung yaitu hukuman mati sehingga lebih dari 5000 pejabat yang mati karena korupsi.

Berdasar pada pengalaman dua negara itu ternyata keberhasilan dan kesuksesan harus di beli dengan harga yang tidak sedikit. Setiap negara, lembaga ataupun orang kemungkinan besar mempunyai permasalahan yang berbeda dan kondisi yang berbeda, namun bukan berarti tidak bisa diselesaikan dan tidak mungkin untuk maju. semua tinggal kembali kepda berapa bayaran yang harus dikeluarkan untuk membeli sebuah keberhasilan dan kesuksesan. bayaran bukan berarti uang “wani piro” seperti dalam iklan sebuah produ di TV namun bayaran sebuah pemikiran, perjuangan dan pengorbanan dalam segala lini.

Indonesia yang saat ini menurut saya masih jauh dari harapan menjadi negara yang maju dan sukses perlu dicari apa penyebabnya. bila berkaca pada kedua negara tersebut bisa saja dijawab karena negara ini belum berani membayar dengan bayaran yang pas. banyaknya korupsi di negeri yang begitu potensial ini tidak diimbangi dengan sanksi yang tegas, bahkan para koruptor seakan menjadi artis yang sedang naik daun yang tiap hari di syuting tv menjadi konsumsi masyarakat menggambarkan begitulah negara ini tanpa ada suatu tindakan yang tegas. 

Ada apa dengan ini semua? apakah memang begitu akutnya penyakit korupsi di negeri ini? atau karena pemimpinnya yang terjerat dengan janji palsu para mafia? atau para pemimpin di negeri ini tidak tahu bila masih banyak rakyat yang menderit? mereka terpana dan lupa ketika studi banding ke luar negeri? 

 

Mengeluh pada Allah

Setiap orang yang ada di dunia ini, pasti tak bisa mengelak dari belitan masalah. Tidak peduli, apakah dia itu seorang presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, lurah bahkan rakyat biasa sekalipun. Sebab, hidup ini memang sebuah jalan berliku, penuh batu kerikil dan kelokan, sehingga cobaan, rintangan dan halangan selalu saja mencegah setiap langkah perjuangan umat manusia untuk mencapai suatu tujuan. Hanya saja, sebagian mereka manusia bisa dikatakan cukup beruntung karena memiliki jabatan, kekuasaan, uang, pengalaman hidup dan basic pendidikan yang mumpuni sehingga –sedikit banyak—hal itu bisa memberi kemudahan untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Tapi bagaimana dengan orang kecil (wong cilik), semisal tukang becak, tukang ojek, penjual sayuran, anak jalanan, pengangguran dan pengemis? Hampir bisa dikatakan kalau mereka itu tidak pernah luput dari deraan dan cobaan hidup yang cukup kejam dan tiada henti. Pendek kata, mereka itu sering kali hidup dalam kondisi yang serba susah. Mungkin lepas dari satu masalah, di lain waktu dililit lagi masalah yang lain. Bahkan bisa jadi belum lepas masalah yang satu, di hari yang lain sudah muncul masalah yang baru lagi dan bahkan lebih pelik. Entah itu, soal makan sehari-hari, penggusuran, soal biaya sekolah anak-anaknya, biaya pengobatan, dan masih banyak lagi yang membuat mereka hidup susah dan kepala bisa-bisa pening memikirkannya.

Tak pelak, kalau dari berbagai cobaan, rintangan dan tantangan hidup yang berat seperti itu selain menjadikan sebagian besar dari mereka kemudian sulit untuk mengelak juga kadang-kadang muncul rasa pesimis dalam menghadapi hidup ini. Dengan kondisi seperti itulah, kemudian cukup ada alasan bagi mereka yang tak kuat untuk menanggung derita dan beban hidup itu, lalu mengeluh. Sebab, merasa nasibnya kurang beruntung, sial atau malang. Tak jarang, mereka mengeluhkan pada keluarga dekat, teman dan bisa juga pada orang yang cukup dipercaya. Namun, bisa juga mengeluh kepada orang lain yang barusan dikenal, semisal saat dalam suatu perjalan naik kapal, bis kota atau kereta api saat kebetulan menjadi teman duduk untuk diajak ngobol dan berbagi cerita.

Pada satu sisi, munculnya keluhan semacam itu memang hal yang wajar dan sudah termasuk sifat dasariah dari umat manusia. Karena dalam hal ini, Allah sudah berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah” (S.Q. al-Ma`aarij [70]: 19-20). Dalam keadaan seperti itu, ketika tak kuat menanggung derita, satu-satunya jalan yang bisa menghibur memang adalah dengan cara berkeluh-kesah. Sebab jika di tinjau dari sisi psikologi, orang yang mengeluhkan suatu derita atau nasib hidupnya –setidaknya– bisa meringankan beban di dalam pikirannya meskipun yang dikeluhkesahi itu tidak memberikan solusi sekali pun. Dengan kata, bercerita itu sendiri sudah jadi terapi dari rasa pening dalam menanggung beban hidup.

Tetapi pada sisi yang lain, ada dua hal yang perlu dan patut untuk digarisbawahi berkaitan dengan masalah keluhan itu. Pertama, adanya keluhan itu diakui atau tidak jelas telah mengusik ketenangan orang lain (yang dikeluhkesahi). Karena itu, bisa-bisa mengganggu pikiran orang. Untung jika orang yang dikeluhkesahi itu bisa membantu, tetapi jika tidak? Atau setidaknya, nasib orang yang dikeluhkesahi itu tak lebih baik. Maka, merasiakannya adalah sebuah langkah yang terpuji dan bijak. Karena hal itu yang dianjurkan agama, meski mengeluhkan beban hidup juga bukan suatu dosa.

Kedua, dengan mengeluh pada orang lain setidaknya si pengeluh merasa dirinya sebagai orang lemah dan memposisikan dirinya sebagai orang yang seolah lebih rendah daripada orang yang dikeluhkesahi. Dengan itulah, mungkin benar saja jika dikatakan ia kehilangan semangat, tidak percaya diri lagi dan butuh orang lain untuk memberikan bantuan.

Memang tidaklah salah jika seseorang harus mengeluh pada orang lain, tetapi lebih bijak jika merahasiakan masalah yang dihadapi dan pada kesempatan yang khusuk kemudian mengeluhkan semua itu kepada Tuhan. Sebab, Tuhan adalah tempat mengadu bagi manusia, tempat berkeluh kesah dan tempat meminta perlindungan bagi umat-Nya. Dengan mengeluh pada Tuhan pada satu sisi dan pada sisi yang lain bersabar, dengan tidak menyerah dan penuh harapan akan masa depan yang lebih baik, sekiranya akan ada selalu jalan keluar. Entah itu, berupa petunjuk, hidayah atau apa pun namanya.

Untuk hal itu, ada sebuah hadis yang patut diperhatikan dengan cermat dan diamalkan, “tidak ada suatu rezki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar”. (HR. Al-Hakim). Akhirnya, bersabarlah ketika sedang ditimpa suatu kesusahan. Tetapi, kesabaran itu haruslah disertai kemampuan dalam merahasiakan masalah dan setelah itu berjuang keras untuk mengubah jalan hidup. Karena dalam sebuah ayat, Allah telah berfirman, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali jika kaum itu berusaha untuk mengubahnya sendiri.”

dikutip dari: http://www.malesnulis.com

Ibuku Sayang…

Aku begitu membencinya, sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah,
untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku
datang, aku sangat malu mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan diri.

Keesokan harinya di sekolah teman-teman mengejekku “Ibumu hanya punya satu mata?!?!” he……., jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, “Bu Mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!” Ibuku tidak
menyahut. Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang
bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak
berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.

Malam itu.. Aku terbangun dan pergi ke dapur
untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis, tanpa suara,
seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya
sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi,hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu
matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh
dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak
membuatku teringat akan ibuku. Kebahagian ini bertambah terus dan
terus, ketika suatu hari..

Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya.
Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari
ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, “Siapa kamu?! Aku
tak kenal dirimu!!” Untuk membuatnya lebih dramatis, aku
berteriak padanya, “Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti
anak-anakku!!” “KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!”

Ibuku hanya menjawab perlahan, “Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat,” dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega. Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega. Suatu hari, sepucuk surat
undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura.

Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana. Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. sampai di kampung yang ku tuju para tetangga memberi kabar bahwa ibuku telah tiada dan menitipkan sepucuk surat untukku. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Surat itu pun aku baca “Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi..

Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku.

Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu.Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu.

Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, “Itu karena ia mencintaiku… Anakku!

Pesan ini memiliki arti yang mendalam dan disebarkan agar orang ingat bahwa kebaikan yang mereka nikmati itu adalah karena kebaikan orang lain secara langsung maupun tak langsung. yang kadang orang itu justru dibenci


Dendam abadi

Dalam Qur’an Surat Al-A’rof (7) ayat 17 syaiton berjanji kepada Allah untuk menggoda manusia dengan berbagai macam cara dan Allah mengijinkan bagi hamba yang tersesat kecuali yang tetap dalam keimanan. Akan didatangi manusia dari depan mereka, belakang mereka, samping kanan dan kiri mereka. ini adalah permintaan syaithon pada Allah disaat dia dicampakkan dari surga. perang sudah di mulai, kebencian dikibarkan mulai saat itu dan dendam syaiton akan berlanjut sampai kiyamat. Ayat ini oleh para ulama hanya bisa di pahami oleh para ahli tafsir saja, berikut kami ulas Menurut Tafsir ibnu katsir mengenai hal itu:

Pertama, didatangi dari depan adalah manusia dilupakan akan masa depan yang pasti akan di hadapi yaitu keidupan setelah kematian. 4 masa dalam hidup manusia, alam kandungan, alam dunia, alam barzakh dan alam akhirat. saat ini kita sedang di fase yang ke dua dan pasti akan masuk pada fase berikutnya, namun banyak manusia melupakan 2 masa yang akan datang yang pasti datangnya.  Manusia di tanamkan rasa takut yang sangat mendalam terhadap kematian sehingga lupa meniapkan bekal yang akan dibawa untuk menghadap Allah.

Kedua, Makna akan di datangi dari belakang adalah syaiton akan selalu mengingatkan manusia akan hal-hal yang dia lakukan yaitu tentang dunia. usaha yang selama ini di lakukan, pekerjaan yang selama ini dikerjakan sehingga manusia dijadikan sibuk dengan urusan dunia. Dengan kesibukannya sehingga banyak waktu di gunakan untuk kehidupan dunia dan mencari kesenangan sementara. Cinta dunia yang pada dasarnya fana, menjadikannya rakus , tamak dan enggan untuk bersedekah dan membantu orang lain. Dunia seakan nebjadi tujuan utama sehingga tidak rela bila usaha untuk mengumpulkan harta selama di dunia ditinggalkan begitu saja, padahal bila maut menjemput dipaksa untuk meninggalkannya.

Ketiga , Di datangi dari samping kanan yaitu dijadikan berat pada manusia untuk berbuat kebaikan baik yang hubungannya dengan sesama manusia ataupun kepad Allah. Syaiton akan menanamkan keraguan yang sangat dalam hati manusia dengan ribuan cara yang sangat halus sehingga setiap manusia akan melakukan kebaikan selalu saja terlintas dalam pikirannya untuk dipikir matang -matang. Seseorang yang diminta untuk bersedekah, maka syaiton emmebisikkan dalam pikirannya “kenapa engkau bersedekah? padahal kamu sudah susah payah mengumpulkan harta dan kamu sendiri dan keluarga masih membutuhkan, bukankah keluarga lebih diprioritaskan?” begitu pula ketika akan melakukan sholat malam ketika akan bangun syaiton membisikkan “nanti saja, waktu masih panjang dan bukankah besok kamu akan bekerja mulai pagi sampai sore apa tidak capek bila bangun terlalu dini? kamu harus  menjaga kesehatan dengan tidur yang cukup” dan lain sebagainya. begitulah kecanggihan syaiton dalam menggoda manusia

Keempat, akan di datangi dari samping kiri yaitu dijadikan semangat dalam berbuat maksiat ekpada Allah, setiap lini kelemahan manusia syetan selalu mempelajari dari mana manusia ini mampu ditakhlukkan, dengan harta misalnya, bila tidak mempan dengan tahta dan bila tidak mempan dengan wanita dan dengan syahwat lainnya. di bujuk manusia untuk mudah mengeluarkan harta ketika untuk sesuatu yang sia-sia dan tidak ada manfaatnya, misal untuk berhura-hura sehingga tidak memiliki rasa eman terhadap harta yang dikeluarkan tidak seperti sedekah, karena syaiton membisikkan “ikutlah membantu untuk menjaga dan menghormati sesama teman, tidak apa-apa -apa asal tidak ikut-ikut” dan begitu seterusnya. belum lagi dengan penyalah gunaan kedudukan yang dimiliki atau godaan wanita yang semakin berat di masa begitu vulgar memamerkan auratnya.

 

Tips menjadi Lembaga Bonafit

Rukun Islam ada 5 perkara, namun yang menjadi pokok adalah shalat. Tidak ada rukun Islam yang se… shalat. Shalat dengan dalih apapun tidak boleh ditinggalkan, bahkan tidak ada shalat yang di qodho. Berbeda dengan rukun Islam yang lain, misal saja zakat hanya diwajibkan bagi orang yang mampu, juga rukun Haji yang sama diwajibkan bagi orang yang mampu. Bahkan haji saat ini sulit untuk dilaksanakan dengan adanya quota yang terbatas. Begitu pula dengan puasa yang merupakan rukun Islam yang ke empat, bisa di qodho di waktu yang lain dengan alasan sakit atau perjalanan bahkan bila sudah udzur bisa diganti dengan membayar fidyah.

Shalat menjadi istimewa karena dalam keadaan sehat harus dilaksanakan dengan sempurna, namun dalam keadaan sakit boleh dilaksanakan dengan duduk, berbaring, dengan isyarat bahkan hanya dengan hati bila tidak mampu. Begitujuga dalam perjalanan tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat, disana ada kaidah di jamak atau di qoshor. Begitu urgennya shalat sehingga sampai seseorang sakaratul maut masih diwajibkan shalat. Bahkan ketika sesorang yang sudah meninggal dalam keadaan Islam dan Iman masih di wajibkan bgai saudara sesama muslim untuk menyolatkan.

Bila di analogikan dalam kehidupan sehari-hari shalat ibarat sebuah amalan yang istiqomah, sedang rukun Islam yang lain adalah amalan yang fleksibel. Shalat yang menjadi ibadah yang istiqomah menjadi pembahasan yang unik dan menjadi ibadah yang paling populer di banding dengan ibadah yang lain. Saking populernya banyak ditemukan masjid-majid dan mushola di setiap tempat yang disediakan untuk melaksanakan ibadah shalat untuk orang yang beriman. Berbeda dengan ibadah yang lain yang hanya disediakan di beberapa tempat, bahkan waktunya juga terbatas dan jarang.

Urgenitas shalat bila di analogikan dengan sebuah lembaga apapun itu misal saja pendidikan, ekonomi dan lembaga lainnya menjadi syarat untuk menjadikan lembaga bonafit dan bergengsi dan populer. Dalam artian bila sebuah lembaga ingin maju dan berprestasi maka unsur istiqomah dalam program kerja harus dimiliki. Apapun keadaannya bila sudah menjadi sebuah program dalam lembaga tidak ada alasan untuk tidak dilaksanakan, walaupun hasilnya kurang sempurna pasti ada hasilnya. Kegiatan rutin misalnya rapat atau koordinasi bila sudah diagendakan maka harus dilaksanakan bagaimanapun dan seperti apapun keadaannya.

Berbeda bila setiap kegiatan dilaksanakan dengan fleksibel maka seperti rukun Islam yang lain yang sebenarnya memiliki kedudukan yang sama, sama-sama rukun Islam namun kurang begitu populer/hanya pupuler musiman. Kegiatan yang sudah di agendakan namun dengan berbagai permasalahan menjadi fleksibel pelaksanannya dan tidak ada penekanan untuk istiqomah maka bisa dipastikan lembaga tersebut kurang populer dan tidak bonafit atau populer musiman.

Pak Guru, Jangan Banyak Aturan!

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah pemandangan yang sangat menarik di lingkungan pendidikan kita. Ketika saya masuk sebuah sekolah negeri (SD Negeri tepatnya) yang cukupbesar, di sana ada sebuah mading yang diisi dengan hasil karya siswa. Tema yang cukup menarik bagi saya, yaitu Bebas asap rokok dan narkoba. Bermacam ekspresi yang ditunjukkan oleh karya anak berupa poster berbentuk gambar yang sangat menarik dan menonjol berisi larangan untuk merokok dan minum minuman keras. Cukup kreatif dan menarik tulisan dalam mading itu, ada yang berbahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jawa.

Mading yang diisi dengan karya siswa adalah sebuah kreatifitas yang sangat luar biasa, namun menjadi ironi ketika hampir setiap guru laki-laki berada di pojok sekolah, di bawah pohon bahkan di dalam kantor dengan tidak canggung menikmati hisapan puntung rokok. Mereka seakan tidak merasa malu, tidak merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan. Mereka tidak sadar dengan tugas yang mereka berikan pada anak-anak untuk mengisi mading. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa, namun kebetulan saya tidak membawa kamera untuk saya ambil gambarnya.

Ini adalah sebuah fenomena yang sering di temukan di setiap lini di negeri ini. Peraturan ada untuk di langgar, kitab suci hanya untuk dibaca dan dijadikan kitab keramat, bukan untuk dikaji dan diamlkan. Maka negara ini hanya menjadi negara administratif. Yang penting ada peraturan, ada undang-undang, ada administrasinya, ada bukti tertulisnya. Namun kontrol terhadap peraturan sangat minim bahkan hampir tidak ada. Pelanggaran-pelanggaran menjadi pemandangan yang sangat biasa walaupun tidak jarang juga di temukan juga tulisan aturan misalnya No Smoking Area, Buanglah Sampah pada tempatnya, Dilarang Parkir dan masih banyak lagi.

Saya Tidak mempermasalahkan hukumnya merokok itu boleh atau haram, namun yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat bisa melakukan sesuatu sesuai dengan kode etik dan aturan yang sudah ada. Bila sudah jelas di sekolah di tulis NO SMOKING AREA ya seharusnya pihak guru sebagai figur model harus menjadi contoh bagi peserta yang setiap hari didik. Guru menurut falsafah Jawa adalah di gugu dan di tiru namun slogan itu seakan hanya menjadi slogan saja ketika setiap tingkah laku dan perbuatannya justru berseberangan dengan aturan yang di buatnya sendiri.

Setiap kita adalah guru, guru bagi keluarga kita, guru bagi masyarakat kita, guru bagi anak-anak kita minimal guru bagi diri kita sendiri. Apapun profesi kita maka lingkungan akan menilai setiap tingkah laku yang kita lakukan, apakah sesuai dengan karakter yang melekat dalam diri kita. Apalagi sebagai guru sesungguhnya, baik guru SD, guru SMP sampai dosen di Universitas. Bila memang tidak mampu untuk meninggalkan larangan maka paling tidak apa yang dilakukan tidak dilihat oleh peserta didik.

Awas!! jangan salah peta

Kisah seseorang ketika melihat dunia yang penuh dengan dinamika seakan dia akan menjadikan perubahan yang berarti bagi dunia. andai saja dunia menjadi lebih baik, lebih beradab lebih mempunyai sebuah tujuan bersama untuk kejahteraan bersama, kemajuan bersama namun yang terjadi penindasan, ketidak adilan kekerasan dan perlakuan yang tidak manusia banyak ditemukan oleh manusia dengan sesama manusia. Namun semua tinggal asa, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena begitu banyak tatanan yang harus di rubah dan begitu banyak power yang ia harus keluarkan namun sayang semua itu seakan tinggal harapan, tak ada yang bisa diperbuat kecuali hanya berkhayal dan berandai-andai.

Semakin dia mengenal kehidupan maka dia mencoba untuk merubah keinginannya untuk mengubah negeri dimana dia bertempat tinggal. kedholiman banyak terjadi, korupsi dan sekulerisme merajalela. Berbagai aksi dilakukan dengan berbagai dinamikanya namun yang terjadi bukan lebih baik namun permusuhan dan persengketaan semakin kuat. tindas menindas, suap menyuap yang akhirnya menghancurkan idealisme yang muncul dan mendasari setiap langkahnya dan teman-teman. Semua tinggal harapan dan hayalan karena semua tetap masih sama bahkan lebih parah

Bila suatu negeri tidak bisa dia takhlukkan maka alangkah baiknya dia memperbaiki keadaan masyarakat dimana dia tinggal, dengan berbagai pengalaman di level yang lebih tinggi dia yakin akan bisa membuat sebuah perubahan bagi masyarakatnya. namun semua seakan tinggal asa karena masyarakat semakin tidak yakin dengan usaha yang dilakukan selama ini. kegagalan-kegagalan yang selalu dia lakukan membuat keadaan semakin terpuruk dan semakin hilang kepercayaan. Harapan untuk menjadikan masyarakat semakin baik ternyata hanya tinggal kenangan, bingung pusing dan pening apa yang selanjutnya akan dia lakukan.

Ya, keluarga! saatnya menjadikan keluarga lebih baik, lebih berakhlak dan beradab. namun anak yang semakin besar dan pasangan hidup yang kurang diperhatikan ternyata memberontak setiap keinginan baik yang dia lakukan. seakan semua sudah terlambat ibarat pohon yang semakin besar tentunya semakin sulit untuk diatur arah pertumbuhannya. Semua keinginan untuk merubah keluarga yang begitu ia sayangi seakan hanya menjadi sebuah mimpi yang begitu menyakitkan di setiap relung hidupnya.

Dunia, negara, masyarakat bahkan keluarga yang diimpikan untuk dia rubah dan warnai ternyata mempunyai warna yang sangat berbeda dengan yang dia harapkan. Badan semakin lemah dan semakin berkurang tenaga, semangat dan motivasi maka dia memutuskan untuk merubah diri sendiri. Kebiasaan yang tidak selayaknya dilakukan dia tinggalkan, dia rubah segala sifat negatif yang menjadi karakternya. kesombongan, keangkuhan, congkak dan semua yang tidak baik pada dirinya Dia rubah dengan harapan kali ini dia tidak akan gagal lagi.

Ternyata, Perubahan betul-betul terjadi pada dirinya hidupnya semakin teratur dan berguna bagi diri dan lingkungannya.  di usia yang semakin senja ternyata dia baru memaknai makna perubahan dalam dirinya yang selama ini dia impikan, yaitu perubahan dalam dirinya. sekian waktu kemudian ternyata keluarganya yang dia cintai terkagum dengan pesona kebaikannya dan mengikuti perubahan dalam dirinya semakin lama masyarakat yang dulu dia ingin merubahnya namun tidak bisa ternyata mampu berubah dengan sikap dan perilaku yang di tunjukkan oleh keluarganya.

Namun sayang perubahan hanya sampai disini karena umur telah merenggut dirinya. Andai saja sejak awal perubahan dia lakukan mulai dari diri sendiri maka keinginan untuk merubah negeri bahkan dunia akan terwujud. Kenyataan ini banyak sekali tidak disadari oleh orang-orang di sekitar kita bahkan kita sendiri. maka sudahkah kita berusaha untuk merubah diri kita untuk menjadi lebih baik???

Selamat Istirahat Sakit

Sakit adalah hal yang sangat lumrah terjadi pada diri seseorang walaupun hampir setiap orang menginginkan jauh dari sakit. Setiap saat setiap waktu sakit hingga tubuh di seseorang, ada yang sekedar sakit ringan/sakit bawaan misal flu, batuk dan pilek ada juga sakit yang berat. Namun kehadiran sakit yang datang dengan tidak di ketahui waktunya menjadikan sebagian orang lupa berusaha menolak atau mempersiapkan diri dari sakit.

Dalam tubuh manusia terdapat jutaan sel yang bekerja 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 365 hari setahun untuk fitalitas dan kelangsungan hidup tubuh manusia. Jutaan sel yang ada adakalanya manusia butuh istirahat, butuh merefresh diri sehingga disaat sel-sel itu istirahat dan merefresh diri maka tubuh seseorang terasa sakit. Hal ini terjadi karena sel-sel tidak bekerja dengan standar sehingga beban kerja sebagian sel terganggu.

Sel-sel yang berjumlah jutaan ibarat sebuah jaringan yang mempunyai sensor dan akan menjalankan perintah pimpinan. Pimpinan sel dalm diri manusia adalah mindset manusia itu sendiri. Akal, fikiran itulah yang mengatur sel-sel dalam tubuh manusia harus bekerja, harus istirahat ataupun harus berhenti bekerja untuk sementara. maksud berhenti untuk sementara adalah sebagian sel yang capek atau overload sehingga harud diistirahatkan dalam bekerja, dan inilah penyebab salit.

Akal dan fikiran manusia lah yang menentukan pola hidup, pola makan dan pola pikir sehingga inilah yang menjadikan tubuh  sehat ataupun sakit. Pola yang positif akan menjadi sebuah perintah positif, semangat dan motivasi sedangkan pola yang negatif menjadikan sebuah beban yang dilakukan secara terus menerus akan menumpuk dan menumpuk. Bila beban semakin menumpuk maka sel-sel yang lemah tidak akan menjalankan tugas denagn sempurna.

Kesehatan bila di analogikan dengan keadaan di atas adalah sebuah kerja tubuh akan maksimal, standar dan proporsional bila dikembalikan pada akal dan fikiran manusia itu sendiri. akal yang sehat menjadikan pola hidup yang sehat dan tubuh yang sehat pula. namun sebaliknya pola hidup yang selalu terbebani dengan permasalahan hidup akan menjadikan sakit.

Setiap orang pasti akan menghadapi sebuah permasalahan hidup dan beban hidup, namun permasalahan dan beban hidup tidak boleh berhenti dalam akal dan fikiran namun yang lebih penting adalah mencari jalan keluar dan action. Banyak orang yang hanya mencari solusi namun tidak pernah action. Orang yang sehat bukanlah orang yang selalu istirahat, namun orang sehat adalah selalu mengunakan akal dan fikirannya untuk mencari solusi dalam setiap permasalahan dan action, termasuk bila tidak ingin pikun carilah solusi cara menghilangkan pikun di masa tua dan action.

Saat tubuh sakit maka sakit punya pekerjaan dan selama tubuh sehat maka sakit akan istrihat dan kerja sakit yang terakhir adalah menghentikan seluruh kerja tubuh manusia.

Tak Mempan Godaan Wanita Cantik

Rabi’ bin Khaitsam adalah seorang pemuda yang terkenal ahli ibadah dan tidak mau mendekati tempat maksiat sedikit pun. Jika berjalan pandangannya teduh tertunduk. Meskipun masih muda, kesungguhan Rabi’ dalam beribadah telah diakui oleh banyak ulama dan ditulis dalam banyak kitab. Imam Abdurrahman bin Ajlan meriwayatkan bahwa Rabi’ bin Khaitsam pernah shalat tahajjud dengan membaca surat Al Jatsiyah. Ketika sampai pada ayat kedua puluh satu, ia menangis. Ayat itu artinya, “Apakah orang-orang yang membuat kejahatan (dosa) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka sama dengan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka. Amat buruklah apa yang mereka sangka itu!”

Seluruh jiwa Rabi’ larut dalam penghayatan ayat itu. Kehidupan dan kematian orang berbuat maksiat dengan orang yang mengerjakan amal shaleh itu tidak sama! Rabi’ terus menangis sesenggukan dalam shalatnya. Ia mengulang-ngulang ayat itu sampai terbit fajar.
Kesalehan Rabi’ sering dijadikan teladan. Ibu-ibu dan orang tua sering menjadikan Rabi’ sebagai profil pemuda alim yang harus dicontoh oleh anak-anak mereka. Memang selain ahli ibadah, Rabi’ juga ramah. Wajahnya tenang dan murah senyum kepada sesama.
Namun tidak semua orang suka dengan Rabi’. Ada sekelompok orang ahli maksiat yang tidak suka dengan kezuhudan Rabi’. Sekelompok orang itu ingin menghancurkan Rabi’. Mereka ingin mempermalukan Rabi’ dalam lembah kenistaan. Mereka tidak menempuh jalur kekerasan, tapi dengan cara yang halus dan licik. Ada lagi sekelompok orang yang ingin menguji sampai sejauh mana ketangguhan iman Rabi’.
Dua kelompok orang itu bersekutu. Mereka menyewa seorang wanita yang sangat cantik rupanya. Warna kulit dan bentuk tubuhnya mempesona. Mereka memerintahkan wanita itu untuk menggoda Rabi’ agar bisa jatuh dalam lembah kenistaan. Jika wanita cantik itu bisa menaklukkan Rabi’, maka ia akan mendapatkan upah yang sangat tinggi, sampai seribu dirham. Wanita itu begitu bersemangat dan yakin akan bisa membuat Rabi’ takluk pada pesona kecantikannya.
Tatkala malam datang, rencana jahat itu benar-benar dilaksanakan. Wanita itu berdandan sesempurna mungkin. Bulu-bulu matanya dibuat sedemikian lentiknya. Bibirnya merah basah. Ia memilih pakaian sutera yang terindah dan memakai wewangian yang merangsang. Setelah dirasa siap, ia mendatangi rumah Rabi’ bin Khaitsam. Ia duduk di depan pintu rumah menunggu Rabi’ bin Khaitsam datang dari masjid.
Suasana begitu sepi dan lenggang. Tak lama kemudian Rabi’ datang. Wanita itu sudah siap dengan tipu dayanya. Mula-mula ia menutupi wajahnya dan keindahan pakaiannya dengan kain hitam. Ia menyapa Rabi’, “Assalaamu’alaikum, apakah Anda punya setetes air penawar dahaga?”
“Wa’alaikumussalam. Insya Allah ada. Tunggu sebentar.” Jawab Rabi’ tenang sambil membuka pintu rumahnya. Ia lalu bergegas ke belakang mengambil air. Sejurus kemudian ia telah kembali dengan membawa secangkir air dan memberikannya pada wanita bercadar hitam.
“Bolehkah aku masuk dan duduk sebentar untuk minum. Aku tak terbiasa minum dengan berdiri.” Kata wanita itu sambil memegang cangkir.
Rabi’ agak ragu, namun mempersilahkan juga setelah membuka jendela dan pintu lebar-lebar. Wanita itu lalu duduk dan minum. Usai minum wanita itu berdiri. Ia beranjak ke pintu dan menutup pintu. Sambil menyandarkan tubuhnya ke daun pintu ia membuka cadar dan kain hitam yang menutupi tubuhnya. Ia lalu merayu Rabi’ dengan kecantikannya.
Rabi’ bin Khaitsam terkejut, namun itu tak berlangsung lama. Dengan tenang dan suara berwibawa ia berkata kepada wanita itu, “Wahai saudari, Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.” Allah yang Maha pemurah telah menciptakan dirimu dalam bentuk yang terbaik. Apakah setelah itu kau ingin Dia melemparkanmu ke tempat yang paling rendah dan hina, yaitu neraka?!
“Saudariku, seandainya saat ini Allah menurunkan penyakit kusta padamu. Kulit dan tubuhmu penuh borok busuk. Kecantikanmu hilang. Orang-orang jijik melihatmu. Apakah kau juga masih berani bertingkah seperti ini ?!
“Saudariku, seandainya saat ini malaikat maut datang menjemputmu, apakah kau sudah siap? Apakah kau rela pada dirimu sendiri menghadap Allah dengan keadaanmu seperti ini? Apa yang akan kau katakan kepada malakaikat munkar dan nakir di kubur? Apakah kau yakin kau bisa mempertanggungjawabkan apa yang kau lakukan saat ini pada Allah di padang mahsyar kelak?!”
Suara Rabi’ yang mengalir di relung jiwa yang penuh cahaya iman itu menembus hati dan nurani wanita itu. Mendengar perkataan Rabi’ mukanya menjadi pucat pasi. Tubuhnya bergetar hebat. Air matanya meleleh. Ia langsung memakai kembali kain hitam dan cadarnya. Lalu keluar dari rumah Rabi’ dipenuhi rasa takut kepada Allah swt. Perkataan Rabi’ itu terus terngiang di telinganya dan menggedor dinding batinnya, sampai akhirnya jatuh pingsan di tengah jalan. Sejak itu ia bertobat dan berubah menjadi wanita ahli ibadah.
Orang-orang yang hendak memfitnah dan mempermalukan Rabi’ kaget mendengar wanita itu bertobat. Mereka mengatakan, “Malaikat apa yang menemani Rabi’. Kita ingin menyeret Rabi’ berbuat maksiat dengan wanita cantik itu, ternyata justru Rabi’ yang membuat wanita itu bertobat!”
Rasa takut kepada Allah yang tertancap dalam hati wanita itu sedemikian dahsyatnya. Berbulan-bulan ia terus beribadah dan mengiba ampunan dan belas kasih Allah swt. Ia tidak memikirkan apa-apa kecuali nasibnya di akhirat. Ia terus shalat, bertasbih, berzikir dan puasa. Hingga akhirnya wanita itu wafat dalam keadaan sujud menghadap kiblat. Tubuhnya kurus kering kerontang seperti batang korma terbakar di tengah padang pasir…